Minggu, 05 Mei 2013

TUGAS KULIAH... ETIKA POLITIK

PAPER ETIKA POLITIK
JOKOWI, PEMIMPIN JAKARTA
YANG GEMAR BLUSUKAN

Disusun guna memenuhi tugas dari Dr. Eko Handoyo M.Si, dan Martien Herna Susanti. S.sos. M.Si


Oleh
Nur Ranika Widyaningrum
3301410048


POLITIK DAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada dasarnya setiap pemimpin itu tidak sama, artinya mereka memiliki etika dan cara sendiri dalam memimpin atau dalam kehidupan sehari-hari. Memimpin itu bukanlah hal yang mudah apalagi bila skala yang di pimpin adalah sebuah ibukota Negara dengan penduduk yang padat dan masalah yang kompleks. Kesulitan dalam memimpin daerah itu dan memajukan serta menyelesaikan semua masalah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah bersama masyarakat. Masalah etika pemerintahan menjadi topic pembicaraan dewasa ini, terutama dalam mewujudkan aparatur yang bersih dan berwibawa. Kecenderungan yang muncul adalah semakin banyaknya pejabat yang dinilai tidak layak memimpin akibat berbagai citra miring hasil perbuatan mereka sendiri.
Pembahasan mengenai etika pemerintahan akan membawa kita pada sosok sosok pemimpin yang dulu atau pernah dan juga yang sedang memimpin daerah. Sosok pemimpin yang di idamkan oleh masyarakat adalah mereka yang bias membawa kemakmuran, klise memang tapi itulah yang ternyata menjadi mimpi besar kebanyakan warga, bagaiman tidak di tengah berbagai persoaln ekonomi , masyarakat juga harus menerima kenyataan bahwa korupsi juga meningkat. Permasalah seperti ini kemudian menyudut pada permasalah etika pejabat daerah.  Pemimpin mereka harus memiliki etika yang benar-benar baik karena tanpa etika yang benar baik masyarakat tidak akan bias loyal pada pemimpinnya. Kita tidak hidup di dunia dongeng dimana kita memiliki raja yang arif dan bijaksana dan kisah itu berahir dengan kebahagiaan dari seluruh rakyatnya. Itulah dunia dongeng, bias diciptakan sesuka hati dan perlu kita ingat bahwa kita hidup di dunia nyata, dimana segala sesuatu tak bias semudah di dunia dongeng .kita harus mencari sosok nyata pemimpin dengan etika yang baik dan pro masyarakat secara nyata.
“Karena sekarang saya ini Gubernur, pelanggan saya sekarang itu masyarakat”, itulah sedikit kutipan pernyataan Jokowi kepada ANTARA News di Jakarta. Gubernur Jakarta ini memang berbeda dari pejabat-pejabat lain, Beliau memiliki cara berbeda dalam memimpin Jakarta. Mantan Wali kota Solo itu suka mengenakan kemeja putih dan celana hitam namun yang paling khas dan selalu disukai masyarakat adalah cara Beliau menyatu dengan warga ibuka dan meninjau berbagai proyek dengan cara “BLUSUKAN”. Tidak banyak pejabat yang melakukan hal ini entah mereka merasa rishi atau memang mereka punya cara lain, tapi justru cara ini yang membuat masyarakat Jakarta kepincut dengan cara dan gaya kepemimpinannya.
Etika dan gaya memimpin kepala daerah sekarang ini sedang menjadi sorotan dan buah bibir masyarakat, terlebih lagi mereka memiliki gaya-gaya berbeda satu sama lain tapi intinya mereka adalah kepala daerah yang memiliki tugas memimpin daerah dan masyarakatnya. Dalam paper ini, akan di bahas menegani etika gubernur Jakarta , jokowi dalam memimpin ibukota dengan cara yang sedang menjadi buah bibir dan sangat fenomenal. Jokowi gemar blusukan, sama seperti ketika beliau menjabat Walikota Solo. Ia di cintai warga solo karena kerendahan hatinya dan keramahannya kepada masyarakat, belaiau bukan kepela daerah yang selalu berdandan perlente bahkan beliau lebih sering mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam. Itulah Jokowi , dan dalam paper ini adan dibahas mengenai etika jokowi dalam memimpin Jakarta.





PEMBAHASAN

Jokowi bukanlah sosok asli Jakarta, beliau adalah mantan walikota solo yang kini menjabat sebagai gubernur Jakarta. Sosoknya kini menjadi idola karena kemampuannya dalam menarik hati masyarakat ibukota, belaiu lebih suka menyelesaikan maslah dnegan dating ke lokasi di banding harus berada di belakang meja kantornya. Dari berbagai media kita akan membahasa bagaimana etika beliau ketika memimpin Jakarta.
Berita dari Kompas.com:
 Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kembali blusukan meninjau lokasi waduk di Kampung Bangau, Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (13/3/2013). Jokowi tampak asyik meninjau waduk yang tengah dalam proses pelebaran tersebut.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada 21 Februari 2013 lalu Jokowi mengunjungi lokasi ini dan menyatakan kebingungannya karena lebar waduk hanya sebesar kolam pemancingan. Saat itu, dia melontarkan rencananya untuk memperlebar waduk dan mengecek proses pengerjaannya secara berkala.
Waduk itu adalah proyek yang dijalankan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta yang dimulai sekitar 2011 lalu. Waduk tersebut dibangun di atas lahan yang sebelumnya adalah tanah lapang. Luas waduk tak begitu besar, diameternya hanya sekitar 15-20 meter. Pembangunan waduk merupakan alternatif untuk menyiasati luapan Sungai Krukut yang lokasinya saling bersebelahan, baik antara waduk dengan sungai maupun dengan permukiman warga.
Lebar Sungai Krukut di wilayah itu awalnya mencapai 8 meter dengan kedalaman mencapai 10 meter. Namun, kondisi sungai saat ini menyusut hingga hanya tersisa lebar sekitar 3 meter dan kedalamannya juga ikut berkurang. Penyempitan Sungai Krukut dipicu oleh pembangunan kompleks latihan Marinir yang dilakukan pada awal 2011 lalu. Lebih dari setengah lebar sungai ikut diuruk, berikut sebuah jembatan yang biasa digunakan warga untuk beraktivitas juga ikut dibongkar.
Hari ini, Jokowi tiba di lokasi sekitar pukul 15.50 WIB. Setibanya di lokasi, mantan Wali Kota Surakarta ini langsung berkeliling ke area waduk yang luasnya tengah diperlebar. Tampak juga di lokasi sebuah alat berat tengah melakukan pengerukan.
Teks diatas merupakan kutipan berita dari kompas yang kala itu meliput Jokowi ketika blusukan meninjau losasi waduk. Dari berita tersebut terlihat memang beliau lebih suka menangani kasusnya dengan caranya sendiri yaitu blusukan. Kata itu memang terlihat tidak familiar bagi pejabat daerah lain tapi bagi jokowi itu telah menjadi kebiasaanya.dari beberapa berita mengenai gaya memimpin dan memerintah Jokowi, akan dibahas bagaimana dilihat dari segi etikanya.

ETIKA PEMERINTAHAN
            Prinsip-prinsip etika harus disesuaikan dengan keadaan, waktu, dan tempat,”ketupat”. Prinsip etika yang bersifat authority, yang bersifat perintah menjadi suatu peraturan sehingga kadang-kadang merupakan atribut yang tidak bisa dipisahkan. Apa yang bias dilihat adalah authority misalnya berpakaian dinas (PSH, PSR, PSL) sebenarnya maslah etika tapi kalau sudah dituangkan bukan lagi bersifat etis tetapi bersifat bersifat pelaksanaan.(widjaja,1997:51)
            Dalam hal berpakaian Jokowi bias di bilang termasuk yang sederhana, beliau lebih sering mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam tanpa dasi, meskipun dalam acra formil beliau selalu memakai pakaian dinasnya.dari sini bias dilihat karakter ke sahajaannya, bukan hal yang sangat penting tetapi dari sisni kita tahu juga bahwa beliau termasuk orang yang sederhana.
            Etika itu sebenarnya di dalam suatu jenjang atau tingkatan dari usaha manusia untuk menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan apa yang dikehendaki atau apa yang ingin dicapai. Etika menempati tengah-tengah beralih-injak dari yang nyata kepada yang dikehendaki/diinginkan.(Widjaja,1997:57)
            Jika dikaitakan antara cara jokowi mengemas kepemimpinnanya demgam gaya berpakaian yang sederhana ini bias mengarah apa yang disebut dengan kebiasaan. Kebiasaan yang baik kiranya bias dapat diterapkan dalam memerintah sesuatu meskipun itu tak tertulis dalam aturan atau undang-undang. Kebiasaan untuk hidup sederhana, berpakaian sopan, mendahulukan kepentingan rakyat mungkin menjadi kebiasaan yang perlu kita lakukan karena dalam etika kadang hal-hal kecil namun sangat penting kadang tak dilusis melaikan menjadi sesuatu yang telah ada atau telah dilkukan seperti gaya berpakaian jokowi yang sederhana dan jauh dari kesan mewah.
            Etika pemerintahan adalah bagian dari etika pada umumnya, sedangkan etika itu luas sekali unsur yang harus diperhatikan dalam etika di pemerintahan adalah harus memiliki penyesuain segala sesuatu yang tiada batasnya. Dalam hal ini perlu sesuatu dalam etika pemerintahan yaitu etik, karena permasalahan pemerintahan menyangkut soal manusia. Dua unsur dalam pemerintahan dalam hal ini adalah unsur yang memerintah yaitu manusia dan masyarakat serta unsur yang diperintah yaitu unsur manusia dan masyarakat.

GEMAR BLUSUKAN
            "Manajemen blusukan itu agar masyarakat percaya," kata Jokowi dalam acara Diskusi Entrepreneurship di Gedung Smesco, Jakarta, Minggu.dari pernyataan di atas jelah bahwa apa yang dilakukan Jokowi adalah cara dia memerintah yang memang sudah ia rencanakan. “Seorang pemimpin harus mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, percuma kalau memimpin tapi tidak dipercaya “, imbuh Jokowi.
            Dalam sebuah pemerintahan memang perlu dukungan rakyat, sebagai bentuk suatu kesediaan dipimpin atau juga partisipasi aktif mereka. Dalam etika pemerintahan perlu dan harus ada partisipasi yang intensif dengan masyarakat. Harus ditanggapi segala keinginan yang ada dalam masyarakat. Dalam mengintensifkan partisipasi yang fleksibel bagi pemerintahan adalah ahal yang sangat penting sebab yang diperhatikan bukan yang memimpin tetapi yang dipimpin. Seorang pemimpin harus mampu membariskan masyarakatnya sehingga dapat diarahkan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. (Widjaja,1997:63)
            Blusukan ala Jokowi dilakukan untuk mengetahui kondisi lapangan yang sebenarnya sehingga terjadi keserasian atra kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini apa yang dilakukan oleh Jokowi memang satu langkah yang maju, sebab dalam hal ini Jokowi langsung mencari kea rah apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat dengan mendapatkan partisipasi langsung melalui cara blusukan. Masyarakat melalaui metode Jokowi ini bias mencurahkan apa yang sebenarnya mereka inginkan atau yang mereka butuhkan bahkan mereka bias berbincang untuk mendapat solusi terbaik. Cara seperti ini baik namun diperlukan upaya yang keras sebab yang dihadapi bukan masyarakat dalam jangkauan kecil tetapi berada pada lingkup ibukota yang memiliki penduduk yang luar bias banyaknya.

REALISTIK DAN KRITIS
            Sebagai manusia kita wajib membuka mata lebar-lebar terhadap suatu realitas. Tanggung jawab moral menuntun kita pada pada sikap yang realistis. Apa yang menjadi kebutuhan orang dan masyarakat yang real hanya dapat diketahui dari relitas itu sendiri. Tak ada jalan lain kecuali membuka mata terhadap orang-orang yang nyata. Sikap realistis tidak berarti bahwa kita menerima keadaan dengan begitu saja tetapi sikap realistic perlu dibarengi dengan sikap kritis. Tanggung jawab moral menuntut agar orang terus memperbaiki apa yang ada supaya lebih adil dan supaya orang-orang lebih bahagia. (Magnis, 1987:150)
Tanggung jawab moral yang nytaa menuntut sikap realistic dan kritis. Pedomannya ialah untuk menjamin keadilan dan menciptakan suatu keadaan masyarakat yang membuka kemungkinan lebih besar bagi anggota-anggota untuk membangun hidup yang lebih bebas dari penderitaan dan lebih bahagia.
Liputan6.com, Jakarta : Pemerintah melakukan penataan pedagang kaki lima (PKL) di wilayah DKI Jakarta demi menciptakan ketertiban dan memberikan ruang bagi pedagang kecil tersebut di Indonesia.
Penataan PKL tersebut ditandai peresmian yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo bersama empat menteri di depan kantor PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM), anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).
Berita di atas terkait dengan upaya jokowi dalam menggandeng pedagang kecil serta usaha kecil menengah untuk bias menjadi tertib dan merelokasi mereka tannpa harus menghentikan usaha mereka. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa Jokowi memiliki sikap kritis terhadap berbagai persoalan pedagang utamanya pedagang kaki lima dimana selama ini Jakrta dipusingkan oleh banyaknya pedagang kaki lima yang pada akhirnya justru mengganggu kenyamanan karena menempati jalanan dan membuat macet.
Usaha yang dilakukan jokowi ini menggandeng pra menteri sehingga dari pihak pusat ada suatu sinergi yang membawa hal positif misalnya pemerintah bias saja membantu dalam mencari solusi mengenai permodalan atau pencarian lokasi khusus bagi pedagang. Sikap relistik dan kristis terlihat diterapkan dalam gaya kepemimpinan Jokowi, misalnya realistis ketika Jokowi mengatakan akan membuat kartu pintar bagi warga miskin sebab nyatanay banyak anak yang masih belum bias sekolah karena masalah keuangan disisi lain daerah memiliki dana untuk memberi subsidi bagi pendidikan warga miskin melalui kartu pintar sesuai dengan persyaratan yang ada
Kritis, ketika Jokowi bekerja sama dengan pengusaha besar dan menggandeng mereka untuk merelokasi para pedagang kaki lima yang sehari-hari berjualan di dekat kantor pengusaha tersebut sehingga jalanan macet, dengan relokasi ke tempat yang lebih layak , maka jalanan menjadi lebih lancar diman hal ini m,embawa dampak positif bagi orang-orang sekitar.
PEMBENAHAN BIROKRASI
          Pada umumnya pengertian birokrasi dalam masyarakat luas senantiasa dikaitkan dengan segala sesuatu yang serba lamban, lambat dan berbelit-belit serta formalitas. Dalam penyelesaian urusan-urusan dengan birokrasi (para birokrat, aparatur pemerintah )selalu mendapatkan hambatan-hambatan yang memakan waktu lama dan tenaga sehingga segala urusan menjadi tertunda penyelesaiannya. Kalau memahami peranan birokrasi maka tugas-tugas yang di bebankan kepada aparatur adalah lebih teratur dan lebih tertib, sehingga tidak akan terjadi penyimpangan atau penyelewengan.(widjaja.1997:73).
            Hamper dalam setiap kota/kabupaten ataupun provinsi kebanyakan masyarakat mengeluhkan pelayanan birokrasi yang lemah atau rendah. Beberapa orang bahkan merasa jika bila melewati jalur birokrasi seperti diperlamban dan dipersulit. Pelayanan yang di berikan oleh para birokrat menjadi kunci dalam berbagai penilaian masyrakat terhadap pemerintahan yang dijalankan oleh suatu daerah. Sama halnya dengan pelayanan yang diberikan pada masa Jokowi.
Sosok Jokowi terlihat kalem dan bersahaja. Disbanding dengan wakilnya, ahok yang terlihat garang, jokowi memang lebih kalem. Sosok seperti Jokowi tidak bisa  diremehkan, salah satu gebrakan yang dilakuakn Jokowi adalah “lelang Jabatan”. Lelang jabatan dalam hal ini dilakukan jokowi untuk memperoler birokrat yang benar-benar berkompeten. Ketika ada birokrat yang tidak berkompeten dan tidak mau melayani masyarakjat maka ada kemungkinana possisinya akan digantikan oleh orang yang telah lolos seleksi sebagai penggantinya, dalam hal ini lelang dilakukan untuk mengisi jabatan lurah dan camat.
Dalam beberapa situs pemberitaan di televise maupun media cetak lain Nampak jelas bahwa hal ini membawa banyak komentar dari masyarakat maupun bagi birokrat itu sendiri, ada yang berkomentar positif ada pula yang merasa hal itu sebagai kebijakan yang terlalu berlabihan, namun bagaimana pun juga hal ini dilakuakan dalam rangka pembenahan birokrasi diman hanya mereka yang benar-benar berkompeten dan mau melayani masyarakatlah yang bisa mengisi jabatan itu.
Pembenahan dalam hal birokrat ini sedikit banyak akan membantu pemerintah daerah dalam hal pembangunan dan melakukan perombakan kea rah yang klebih baik. Stetelah perombakan/lelang dilakukan, diharapkan pelayanana kepada masyarakat bisa lebih baik. Ketika masyarakat benar-benar membutuhkan pelayanan yang sigap, cepat dan tepat diharapkan para birokrat bisa memberikan pelayanan yang diinginkan. Kebijakan yang dilakuakan ini juga sebenarnya bisa dilakuakn di beberapa daerah lain diluar Jakarta sebab ada kemungkinan rendahnya oembangunan di beberapa daerah disebabakan karena kurang baiknya birokrat dalam melaksanakan pekerjaanya. Oleh karena itu perlu pembenahan birokrasi dalam upaya membangun pemerintahan yang lebih baik.
           
           
















PENUTUP

Setiap pemimpin memiliki gaya dan cara yang berbeda dalam melakukan kewajibannya sebagai pelayan masyarakat. Ada yang bertipe tegas dan gahar, ada yang santun, ada yang cuek bahkan ada yang mementingkan keinginan diri di banding kepentingan masyarakat. Etika mereka dalam memimpin dan bekerja bisa menunjukan pada bagaiman jiwa pemimpin itu. Dalam hal memimpin ada satu hal penting yang tidak bisa diganggu gugat yaitu pemimpin yang pro rakyat, bukan hanya menjalankan tugasnya tapi perlu juga memoerhatikan kepentingan masyarakat terutama mereka yang ada di kalangan bawah dan membutuhkan. Jokowi sebagai pemimpin Jakarta setelah dianalisa memiliki gaya dan cara yang unik yaitu blusukan cara yang lebih efektif agar lebih dekat dengan rakyat. Ketepatan sasaran diperlukan untuk bisa memberikan kebijakan yang benar-benar sesuai dengan apa yang di butuhkan oleh masyarakat.
Jokowi adalah sosok pemimpin yang memiliki kesehajaan dalam melakukan tugasnya sebagai seorang pemimpin. Ada beberapa hal positif yang bisa kita tiru dari cara jokowi memeimpin salah satunya adalah cara untuk mencari solusi dengan cara mendekati rakyat dan menemukan akar permaslahan dan memberi solusi lewat cara blusukan dan pembenahan birokrasi yang tepat sasaran. Mereka yang tidak mau melayani masyarakat harus diganti dengan mereka yang berkompeten dan mau melayani masyarakat. Upaya ini diharapkan mampu membangun Jakarta menjadi lebih baik lagi dan membawa masyarakatnya menjadi lebih maju.





DARTAR PUSTAKA

Widjaja,W.1997. Etika Pemerintahan. Jakarta:Bumi Aksara
Magnis,Frans.1987.Etika Dasar.Jogjakarta:Kanisius


Tidak ada komentar:

Posting Komentar